Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Journalistic Training Sahabat Walhi Bengkulu


Journalistic Training Sahabat Walhi Bengkulu

Hari minggu tepatnya tanggal 26 Juli 2009, Sahabat Walhi Bengkulu mengadakan Jornalistic Training untuk anggota Sahabat Walhi dalam rangka persiapan dan pembekalan pembuatan Buletin Sahabat Walhi Bengkulu yang berisikan berita, artikel, dan opini lingkungan. Dirasakan banyak hal yang perlu dikupas mengenai lingkungan di Daerah Bengkulu, Sahabat Walhi Bengkulu termotivasi untuk menerbitkan Buletin Sahabat Walhi Bengkulu. Training ini berlangsung dalam waktu lebih kurang 10 jam dimulai pukul 09.00 WIB s/d 19.00 WIB.

Banyak ilmu dan pengalaman para Trainer yang kami dapat saat berlangsungnya pelatihan ini, walaupun Peserta tak terlalu banyak (10 orang), tetapi motivasi kami tak luntur untuk meneruskan agenda pembuatan Buletin ini. Setelah pemberian materi jurnalistik, kami dituntut terjun langsung kelapangan untuk mencari berita dan menuliskannya langsung dalam bentuk berita ataupun artikel. Peserta yang ikut serta cukup aktif dan kreatif mencari dan membuat berita yang didapat dari lapangan. Setelah pembuatan berita dilakukan, input dari Trainer dan teman-teman Peserta menambah semangat kami untuk lebih meningkatkan kreatifitas kami dalam mencari dan menulis sebuah berita maupun artikel lingkungan.


Sungguh mengasyikkan belajar dan bekerja…“Sedikit Orang Yang Banyak Bekerja menurut kami lebih baik dari Banyak Orang Tapi Sedikit Bekerja”


Buletin ini kami beri nama “GreenLine” (Garis Hijau) Sawa Bengkulu yang diterbitkan setiap 1 bulan sekali. Dengan Tim Redaksi :
Penanggung Jawab : Sahabat Walhi Bengkulu
Pimpinan Redaksi : Iwan Iskandar
Wartawan : Yuni, Danil, Veby, Roby, Rian, Ardi
Editor : Veby, Reni, Feri
Layout/Design : Nandar, ITC.

Read More → Journalistic Training Sahabat Walhi Bengkulu

Energy and the Environment - Nearly 90% of Global Warming Gas Emissions Are CO2

“There is a 90 percent chance the planet's average temperatures will rise 3 to 9 F (1.7 to 4.9 C) by 2100.” This simple statement in the June 2001 report released by National Center for Atmospheric Research in Boulder, Colorado leaves little doubt of the magnitude of the threat from global warming. The UN Environment Program estimates that the extra economic costs of disasters attributable to global warming are running at more than $300 billion annually. The global community is responding with actions lead by the Kyoto Protocol, which aims to reduce emissions of global warming gases. Nearly 90% of global warming gas emissions are CO2, which are primarily from the use of fossil fuels for energy. The focus on energy will undoubtedly continue to increase. Throughout the world different methods are being used to encourage reduced energy use. Japan has enacted the Energy Conservation Law in 1999. The U.S. has revised ASHRAE Standard 90.1 to raise the minimum COP level for centrifugal chillers from the current value of 5.2 to 6.1 effective in October of this year. A growing number of countries are using environmental costing which includes an estimated cost for resource depletion and environmental deterioration. Although such fees to discourage pollution were first proposed in 1920 they did not see widespread application until 1990 when Finland implemented the first carbon tax. At present there are more than 30 countries that have some type of carbon tax in effect. Environmental accounting (or costing) is a broader term than just a carbon tax on energy. For example, subsidies being provided to energy producing industries are a form of negative tax. Removal of such subsidies has the same effect as a carbon tax, which is to raise the price of energy to the user. Such methods make more energy efficient alternatives more financially attractive. In the recently released "OECD Environmental Strategy for the First Decade of the 21st Century" the goal is to include “cuts to energy, farm and other subsidies so prices more accurately reflect environmental impacts”. China, the U.K., India, Indonesia and Thailand are countries that have recently eliminated subsidies to parts of their energy industries. Will environmental costing continue to spread? Environmental costing is an estimated cost for resource depletion and environmental deterioration. One can only guess. It is intuitively attractive to tax something bad, i.e. environmental damage rather than something good such as one’s salary or company’s profits. As a building owner, facility engineer or factory manager the implications are enormous. Just how much could energy prices change? According to European Research Commission Report released in July of this year “The cost of producing electricity from coal or oil would double if costs such as damage to the environment and health were taken into account”. Coal subsidies in China have been more than halved since 1984, and nearly 1 million coal-mining jobs have been eliminated over the past five years as a result of far-reaching coal reduction initiatives. In 1999 alone, total coal use in China dropped 4.4%. Petroleum subsidies fell from 55% in 1990 to 2% in 1995. Source: EIA April 2001. Any significant change in the price of energy can have a major impact on the profitability and value of a building or factory. One can protect their interests by investing in the highest possible efficiency that is economically justifiable. In the past energy efficiency improvements in the U.S. have had a median payback of only 1.9 years meaning that IRR’s of up to 70% were not being selected. This is now changing. In addition to the economic attractiveness of high efficiency there are environmental gains through reduced emissions of carbon dioxide and other power plant emissions that are harmful to the environment. The move to high efficiency equipment is accelerating. And at the same time, there is increasing emphasis in system design and optimization. Low flow/high delta T systems are offering energy savings in operating costs and first cost through smaller pipe diameters and pump sizes. The focus on high efficiency HVAC equipment and systems will continue to increase as additional emphasis is being placed on the environmental costs associated with energy use.

Read More → Energy and the Environment - Nearly 90% of Global Warming Gas Emissions Are CO2

Aksi Hari Bumi 22 april 2008

Sampah Cemari Cadangan Air Tawar Kota Bengkulu

Tempat pembuangan sampah akhir dikota Bengkulu terletak di daerah air sebakul (hulu Danu Dendam). Pembuangan sampah dalam periode singkat mungkin belum membawa dampak yang signifikan. Namun akan terasa setelah periode yang panjang, apabila terjadi akumulasi sampah yang terus menerus tanpa ada upaya pengelolaan maka pencemaran lingkungan dan tingkat pemanasan global akan terus meningkat.

Hasil penelitian Bapedalda Bengkulu menunjukan, karakteristik sampah kota Bengkulu terdiri dari sampah organik (lebih kurang 75%) dan 25 % Non organik yang sangat sulit terurai di alam seperti plastik, kaleng bekas (logam) dan non Logam, keramik dan sejenisnya. Sampah ini tidak hanya mencemari Danau melalui tirisan dan zat yang di bawahnya, namun juga menyebabkan daya tampung danau berkurang secara gradual sesuai volume sampah yang dibuang. Eutrofikasi Danau dapat terjadi akibat tirisan sampah, sehingga mempercepat terjadinya sedimentasi dan pertumbuhan tanaman air yang dalam jangka panajang akan mengurangi volume cadangan air tawar di danau dusun besar. Tumpukan sampah yang berada di tempat pembuangan akhir (TPA) mengandung air yang berasal dari sampah yang di sebut air lindi, saat musim kemarau jumlah air dari sampah masuk kedanau memang akan berkurang namun dimusim hujan jumlah air akan meningkat seiring dengan zat-zat beracun yang ikut serta didalamnya. Adanya TPA bisa mencemari air tanah yang dikonsumsi masyarakat kota Bengkulu, karena air lindi TPA sebakul masuk kedalam danau dusun besar yang menjadi cadangan sumber utama dan cadangan terbesar air tawar kota bengkulu. timbunan sampah ini menggandung B3 (bahan berbahaya dan beracun) bayangkan, jumlah sampah yang dibuang ketempat pembuangan akhir sampah ini cukup besar sekitar 15 ton perhari.

Saat ini yang dibutuhkan adalah adanya sistem pembuangan sampah yang tidak mencemari kualitas air yang ada di Danau dendam dan juga pengelolaan sampah dengan sesuai aturan agar tidak mengeluarkan zat metan yang merupakan salah satu gas penyumbang pemanasan global. Sampah yang dibuang di daerah rawa atau daerah tangkapan air danau harusnya tidak dilakukan karena selain merusak ekosistem danu secara langsung juga dapat mencemari kualitas air danau yang menjadi pemasok air tawar terbesar di kota Bengkulu pemerintah kota Bengkulu hendaknya lebih memperhatikan hal ini karena penting buat masa depan kita semua.

Read More → Aksi Hari Bumi 22 april 2008

Pelatihan GSM III


PELATIHAN GSM ANGKATAN KE III Pengembangan Gerakan Environmentalis terus dilakukan di Bengkulu"setelah pelatihan angkatan I dan II pelatihan yang untuk ke III pun dilaksanakan. Pada pelatihan yang ke tiga terlibat beberapa orang mahasiswa yang berasal dari berbagai Universitas di Bengkulu yaitu : UMB, UNIB, STIKES. Pelatihan GSM ke tiga dilaksanakan di Pinggiran danau Dusun Besar kota Bengkulu.

Read More → Pelatihan GSM III

Aksi Lingkungan GSM 23 Maret 2008

Aksi Bersih Pantai, Lomba Lukis Alam dan Parade Band Pelajar Sekota Bengkulu"
Dalam rangka memperingati hari air Sedunia GSM Bengkulu mengadakan aksi lingkungan pada hari Minggu 23 Maret 2008" Aksi ini disusun dengan konsep yang menarik banget oleh anak-anak GSM Bengkulu, Aksi lingkungan ini cukup menarik perhatian anak2 muda di Bengkulu karena kegiatan ini baru pertama diadakan diBengkulu karena didalam sebuah aksi ada 3 kegiatan yang dilakukan secara bersamaan, kegiatannya adalah Bersih Pantai, Lomba lukis Alam dan parade Band Pelajar Sekota Bengkulu. dibawah ini document kegiatan aksi lingkungan yang diadakan oleh Green Student Movement Bengkulu.

Read More → Aksi Lingkungan GSM 23 Maret 2008

Training GSM angkatan II

Training GSM angkatan ke II diBengkulu konsepnya dikemas berbeda dengan training angkatan pertama, pada angkatan pertama training GSM Bengkulu dilakukan Didalam Ruangan (indor) namun pada training GSM ke II dilakukan dengan konsep Outdor (perkemahan) . Training GSM angkatan ke II diikuti oleh beberapa orang perwakilan dari perguruan tinggi bengkulu, yang terdiri dari Universitas Bengkulu, Universitas Muhammadiyah, dan Stikes. berbeda dengan GSM I yang pesertanya terdiri dari anak2 Sekolah menengah Atas.

Read More → Training GSM angkatan II

Aksi Lingkungan Bengkulu 25 November 2007

Aksi Lingkungan Bengkulu 25 November 2007 yang bertepatan pada hari Ulang tahun Bengkulu ke-36
Rangkaian Kegiatan :
  1. Pengumpulan Surat Dukungan Penyelamatan Danau Dusun Besar Bengkulu
  2. Lomba Kebersihan
  3. Kreasi Seni
  4. Parade Band

Read More → Aksi Lingkungan Bengkulu 25 November 2007

Training Green Student Movement Angkatan I (satu)

Training gsm Bengkulu 8-9 september 2007, yang juga bertepatan dengan kongres rakyat Bengkulu. training dimulai pada hari sabtu pukul 12.00wib-22.00wib dan dilanjutkan pada hari minggu pukul 09.00wib-17.00wibsambutan pertama disampaikan oleh "Sumardi" sebagai panitia trainingsetelah itu Training dibuka langsung oleh "Ali Akbar"(Direktur Eksekutif Walhi Bengkulu) dan training dilanjutkan dengan dipandu oleh ANDI"EKNAS" dan Tree "lampung"

Read More → Training Green Student Movement Angkatan I (satu)